BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Organisasi
merupakan wahana untuk mencapai tujuan. Supaya pencapaian tujuan ini dapat
dilaksanakan dengan baik, diperlukan fungsi-fungsi.
Sebagai
pelaksana fungsi-fungsi tersebut, diperlukan personalia-personalia, yang diberi
wewenang, tanggung jawab, dan pertanggung jawaban. Wewenang, tanggung jawab dan
pertanggung-jawaban tersebut merupakan motor dan katalisator, pelaksanaan tugas
yang diberikan kepada setiap pelaksana di dalam organisasi. Para pelaksana
dituntut untuk mampu melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya.
Sehingga dengan demikian, perlu dicari pelaksana-pelaksana yang benar dan baik,
dalam arti bersedia menyumbangkan tenaganya kepada setiap usaha pencapaian
tujuan itu.
Mengingat
betapa pentingnya sumber daya manusia dalam organisasi, kami akan membahas lebih jauh
tentang Fungsi Personalia.
B. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas pengantar bisnis
dan manajemen tentang fungsi personalia.
C. Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan manajemen
personalia?
2.
Apa saja jenis-jenis personalia?
3.
Apa tujuan manajemen personalia?
4.
Apa saja aktivitas-aktivitas personalia?
5.
Bagaimana analisis hubungan industrial?
D. Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan makalah ini agar
pembaca makalah dapat menambah informasi tentang fungsi personalia.
BAB
II
PEMBAHASAN
1.
Pengertian Manajemen Personalia
Pengertian manajemen personalia menurut beberapa ahli
a.
Menurut Ordway Tead
Suatu proses
dan kegiatan pelaksanaan usaha memimpin dan menunjukan arah penyelenggara tugas
suatu orgnisasi di dalam mewujudan tujuan yang telah di tetapkan.
b.
Menurut Hani Handoko
Manajemen mencakup fungsi-fungsi perencanaan (penetapan
apa yang akan dilakukan), pengorganisasian (perancangan dan penugasan kelompok
kerja), penyusunan personalia (penarikan, seleksi, pengembangan, pemberian
kompensasi dan penilaian prestasi kerja), pengarahan (motivasi, kepemimpinan,
integrasidan pengelolaan konflik) serta pengawasan.
c.
Menurut Ranupandojo
serta Husnan
Suatu perencanaan, pembagian
kompensasi, penginterprestasian, pengembangan, serta pemeliharaan
tenaga kerja dengan maksud untuk dapat membantu tercapainya suatu tujuan
perusahaan, individu dan juga masyarakat.
d.
Menurut Manullang
Suatu ilmu
yang mempelajari bagaimana cara memberikan suatu fasilitas untuk perkembangan,
pekerjaan dan juga rasa partisipasi pekerjaan didalam suatu kegiatan atau
aktivitas.
e.
Menurut Nitisemito
Suatu ilmu
seni untuk dapat melaksanakan antara lain perencanaan, pengorganisasian,
pengawasan, sehingga dapat efektivitas serta juga efisiensi personalia
dapat ditingkatkan semaksimal mungkin didalam mencapai tujuan.
f.
Menurut Prof. Edwin B. Filippo
Perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian atas pengadaan tenaga kerja,
pengembangan, kompensasi, integrasi, pemeliharaan, dan pemutusan hubungan kerja
dengan sumber daya manusia untuk mencapai sasaran perorangan, organisasi, dan
masyarakat.
Dapat kami simpulkan manajemen sumber
daya manusia atau manajemen personalia merupakan kumpulan aktivitas di dalam
semua organisasi yang bermaksud mempengaruhi efektivitas sumber daya manusia
dan organisasi.
2.
Macam/Jenis Personalia
Sesuai
dengan fungsinya, dalam perusahaan terdapat dua macam tenaga kerja.
a.
Tenaga eksekutif
Mempunyai dua tugas pokok ialah mengambil berbagai keputusan dan
melaksanakan fungsi organik manajemen yakni merencanakan, mengorganisasi,
mengarahkan, mengkoordinir, dan mengawasi.
b.
Tenaga operatif
Merupakan tenaga terampil, yang menguasai bidang pekerjaannya, sehingga
setiap tugas yang dibebankan kepadanya dapat dilaksanakan dengan baik. Ditinjau
dari kemampuannya melaksanakan tugas, tenaga operatif dibagi menjadi 3 golongan
yaitu:
ü
Tenaga trampil (skilled labor)
ü
Tenaga setengah trampil (semi skilled
labor)
ü
Tenaga tidak trampil (unskilled labor)
3.
Tujuan Manajemen Personalia
Tujuan dari manajemen personalia
berhubungan dengan tujuan perusahaan dengan secara umum. Hal
tersebut disebabkan karena manajemen perusahaan itu berusaha untuk dapat
menimbulkan efisiensi didalam bidang tenaga kerja ialah sebagai efisiensi
keuntungan serta kontinuitas.
Menurut Manullang (2001), tujuan
manajemen personalia terdapat 2 (dua) macam, yakni :
Ø Production
Minded (efisiensi dan daya guna),
Ø People
Minded (Kerja sama).
Oleh karena itu manajemen
personalia ini menyangkut suatu usaha untuk dapat menciptakan kondisi yang
mana tiap-tiap karyawan itu didorong untuk dapat memberikan sumbangan
sebaik mungkin untuk atasanya, dikarenakan tidak bisa mengharapkan
efisiensi yang maksimal tanpa adanya kerjasama yang penuh dari para anggotanya.
4.
Aktivitas-aktivitas Personalia
Pencapaian produktivitas tenaga kerja sesuai dengan yang diinginkan
perusahaan harus didukung oleh kegiatan-kegiatan departemen personalia dari
suatu perusahaan. Kegiatan-kegiatan tersebut adalah:
A.
Perencanaan Sumber Daya Manusia
Tujuan perencanaan sumber daya manusia ini yaitu menciptakan kaitan antara
seluruh strategi perusahaan dengan kondisi sumber daya manusia yang tersedia
atau dengan perkataan lain, dengan adanya perencanaan sumber daya manusia maka
aktivitas sumber daya manusia akan selalu konsisten dengan arah atau tujuan
perusahaan.
Di dalam menyusun perencanaan sumber daya manusia, manajemen perlu membuat
analisis lingkungan dan penilaian organisasional. Analisis lingkungan
dimaksudkan agar manajemen dapat mengantisipasi adanya perubahan-perubahan yang
mungkin akan terjadi di waktu mendatang.
Lingkungan yang dapat mempengaruhi ketersediaan tenaga kerja dapat
dijelaskan sebagai berikut (Henry Simamora, 1995 : 61 - 64) :
Lingkungan ini dapat mempengaruhi status keuangan perusahaan yang akan
dapat mempengaruhi tingkat pengeluaran, resiko dan prioritas pembelanjaan.
Tingkat inflasi yang tinggi, krisis moneter dapat menyebabkan perusahaan
lebih berhati-hati dalam pengeluaran. Dalam hal ini perusahaan mungkin akan
mengurangi dana untuk pelatihan, pendidikan, perbaikan keselamatan kerja atau
bahkan untuk pengupahan dan pemberiantunjangan bagi karyawan.
Dalam hal ini, kebiasaan, sub kultur ataupun
trend populasi dapat mempengaruhi organisasi. Manajer perlu memahami lingkungan
sosial dimana perusahaan beroperasi, sebab ini akan berpengaruh terhadap
hubungan antara pekerja dengan manajemen. Sikap, nilai sosial dan kepercayaan
dapat mempengaruhi apa yang diharapkan tenaga kerja pada organisasi.
Lingkungan ini menyangkut sikap pemerintah
terhadap perusahaan, peraturan ketenagakerjaan dan kesejahteraan sosial.
Peraturan pemerintah yang mengharuskan perusahaan memberikan tunjangan
kesehatan, penyediaan dana pensiun atau mengasuransikan tenaga kerja akan
menyebabkan perusahaan berupaya untuk melaksanakannya.
Kemajuan bidang hukum memberi perlindungan bagi
para tenaga kerja untuk mendapatkan hak dan kewajibannya secara proporsional.
Hukum juga menempatkan tenaga kerja pada posisi yang sama, tidak ada perbedaan,
dari level manajer tertinggi sampai karyawan level bawah.
Lingkungan ini menggambarkan sikap karyawan dan
masyarakat terhadap serikat pekerja. Karyawan yang tingkat pendidikannya tinggi
akan bereaksi secara negatif terhadap serikt pekerja dibandingkan dengan tenaga
kerja yang tingkat pendidikannya rendah.
Di sini, teknologi akan mempengaruhi keahlian
pekerja yang dibutuhkan serta alat-alat kerja yang digunakan dalam
menyelesaikan suatu pekerjaan. Seperti pada industri perakitan mobil atau
pesawat terbang, maka dibutuhkan tenaga kerja dengan keahlian khusus, sehingga
ini mempengaruhi penarikan, seleksi dan pelatihan karyawan.
B. Analisis dan desain pekerjaan
Analisis pekerjaan merupakan penentuan melalui
pengamatan, studi dan informasi yang berkaitan dengan sifat dari
suatu pekerjaan tertentu. Dari sudut pandang departemen personalia, tujuan
penyusunan analisis pekerjaan (analisis jabatan) adalah :
Komponen-komponen
analisis pekerjaan sebagai berikut.
Suatu uraian atau deskripsi tertulis tentang apa yang
harus dikerjakan oleh seseorang karyawan dalam suatu pekerjaan tertentu.
Manfaat adanya deskripsi pekerjaan yaitu:
-
membantu memberi gambaran yang jelas tentang tugas dan
tanggung jawab pekerja,
-
memudahkan prosedur penarikan dan pelatihan tenaga
kerja, dan
-
membantu tenaga kerja dalam merencanakan karir mereka.
Suatu uraian
pekerjaan dapat memuat:
-
Nama pekerjaan
-
Ringkasan pekerjaan
-
Tugas khusus yang harus dilaksanakan
-
Hubungan antar pekerjaan
-
Kecakapan karyawan dan alat kerja serta bahan yang
akan digunakan
-
Kondisi kerja
-
Tanggung jawab yang harus dilaksanakan karyawan
Spesifikasi pekerjaan lebih menekankan pada peralatan
fisik, pengetahuan, pengalaman, kemampuan gerak dan fisiologis serta kecerdasan
yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawab.
Desain pekerjaan berupaya memadukan tugas, fungsi dan
hubungan (isi pekerjaan), balas jasa (kompensasi) dan kualifikasi pekerja yang
disyaratkan untuk setiap pekerjaan.
Terdapat 4 tempat desain pekerjaan (Henry Simamora,
1995: 19-120) :
-
Simplikasi pekerjaan (job simplification)
Dalam
penyederhanaan pekerjaan ini, dimaksudkan agar karyawan yang kurang terlatih,
dapat mengerjakan pekerjaan ini dengan baik.
-
Rotasi pekerjaan (job rotation)
Karyawan
dipindah-pindahkan dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain dengan maksud
agar menguasai berbagai jenis pekerjaan, mengurangi kebosanan serta membuat
karyawan lebih fleksibel dalam menerima berbagai jenis pekerjaan.
-
Pemekaran pekerjaan (job enlargement)
Pekerjaan
diperluas sampai tingkat di mana bagian yang berarti diselesaikan oleh seorang
karyawan. Karyawan mendapatkan beberapa variasi dalam pekerjaan sehingga
diharapkan dapat mengurangi kebosanan.
-
Pemerkayaan pekerjaan (job enrichment)
Diharapkan
dengan pemerkayaan pekerjaan ini, dapat lebih meningkatkan tanggung jawab
pekerjaan.
C. Penarikan tenaga kerja (recruitment)
Penarikan tenaga kerja merupakan kegiatan untuk
mencari dan menarik calon tenaga kerja dengan motivasi, kemampuan, keahlian,
dan pengetahuan yang diperlukan.
Sumber penarikan tenaga kerja dibagi menjadi dua
yaitu:
Sumber dari dalam yaitu memberi kesempatan karyawan
dari dalam perusahaan untuk mengisi lowongan kerja. Segi kelemahannya adalah
menutu ide-ide dari luar, menciptakan pola pikir yang sempit dan mempertinggi
persaingan antar karyawan. Keunggulan adalah :
-
memberi motivasi dan promosi bagi karyawan
-
meningkatkan moral karyawan
-
mempertinggi loyalitas karyawan
-
mengembangkan pribadi karyawan
Saluran penarikan tenaga kerja dari luar perusahaan
diantaranya:
-
Kantor Penempatan Tenaga Kerja
-
Lembaga-lembaga pendidikan
-
Rekomendasi dari karyawan
-
Surat lamaran yang dikirim langsung ke perusahaan
(writes-in)
-
Para pelamar yang datang langsung ke perusahaan
(walks-in)
-
Melalui iklan
-
Agen penempatan tenaga kerja
-
Serikat pekerja
D. Seleksi tenaga kerja
Berbagai
jenis tes seleksi tenaga kerja:
Tes ini untuk mengetahui kemampuan seseorang dalam hal
berpikir secara menyeluruh dan logis.
Tes ini akan dicoba untuk diukur apakah seseorang memiliki
kemampuan yang tersembunyi untuk mempelajari sesuatu pekerjaan apabila
kepadanya diberikan latihan yang cukup.
Tes ini menguji seberapa jauh pengetahuan peserta
tentang sesuatu hal.
Berfungsi untuk mengetahui minat seseorang terhadap
pekerjaan atau jabatan tertentu.
Tes ini mengamati bagaimana calon bekerja itu
berinteraksi, bersikap dan bekerjasama dengan orang lain.
E. Orientasi, pelatihan, dan pengembangan tenaga kerja
Metode
latihan dan pengembangan
a)
Dua metode dasar dalam melaksanakan pengembangan
karyawan
Suatu kegiatan untuk memperbaiki kemampuan seorang
karyawan dengan cara meningkatkan pengetahuan dan keterampilan karyawan dalam
menjalankan suatu pekerjaan.
Kegiatan untuk memperbaiki kemampuan seorang karyawan
dengan cara meningkatkan pengetahuan dan pengertian karyawan tentang
pengetahuan umum dan pengetahuan ekonomi pada umumnya, termasuk peningkatan
penguasaan teori dan keterampilan mengambil keputusan dalam menghadapi
persoalan-persoalan organisasi perusahaan.
b)
Prinsip-prinsip yang digunakan sebagai pedoman dalam
melatih karyawan agar latihan dan pengembangan dapat berjalan dengan baik
Tujuan penelitian dan pengembangan
a)
Memutakhirkan keahlian karyawan dengan adanya kemajuan
teknologi
b)
Mengurangi waktu belajar bagi karyawan baru untuk terampil
dalam pekerjaan
c)
Membantu memecahkan permasalahan operasional
d)
Mempersiapkan karyawan untuk promosi
e)
Mengorientasikan karyawan terhadap organisasi
Berbagai
jenis metode pelatihan dan pengembangan
a)
On the job training
Metode pelatihan ini dirasa lebih ekonomis karena
karyawan langsung dilibatkan pada pekerjaan, bukan dengan cara simulasi,
sehingga tidak memerlukan waktu khusus maupun fasilitas-fasilitas untuk
pelatihan.
b)
Apprentichesip (magang)
Metode pelatihan ini dirancang untuk jenis pekerjaan
yang memerlukan keahlian yang relatif tinggi. Metode ini cenderumg ke arah
pendidikan daripada pelatihan dan ini merupakan penggabungan antara pelatihan
dan pengalaman pada pekerjaan.
c)
Rotasi pekerjaan
Tujuan metode ini adalah untuk memperluas latar
belakang peserta dalam bisnis.
d)
Off the job training
Di sini para individu diberi pengetahuan dan keahlian
yang mereka perlukan dalam waktu tertentu dan terpisah dari saat bekerja.
F. Penilaian kinerja
Penilaian kinerja ini mencakup aspek kualitatif dan
kuantitatif dari pelaksanaan pekerjaan. Manfaat penilaian kinerja ini adalah:
Setiap
penilaian prestasi kerja di antaranya dengan:
G. Pemberian kompensasi
Perusahaan dapat memberi penghargaan kepada karyawan
dalam bentuk sebagai berikut.
1.
Langsung
-
Upah
-
Gaji
-
Bonus
-
Komisi
2.
Tidak langsung
-
Program asuransi kesehatan/jiwa
-
Bantuan sosial bagi para karyawan
-
Tunjangan-tunjangan pensiun kesehatan, kesejahteraan
sosial, dll
1.
Lingkungan pekerjaan
-
Kebijakan-kebijakan yang sehat
-
Supervisi yang kompeten
-
Rekan kerja yang menyenangkan
-
Kondisi lingkungan kerja yang nyaman
-
Simbol status yang tepat
-
Sharing pekerjaan
-
Tunjangan kafetaria
2.
Tidak langsung
-
Pekerjaan yang menantang
-
Tugas-tugas yang menarik
-
Tanggung jawab
-
Peluang akan pencapaian tugas
-
Peluang adanya promosi
Tujuan pemberian kompensasi
Dalam pemberian kompensasi terdapat
dua kategori imbalan
a)
Imbalan Intrinsik
Berasal dari individu sendiri dan melekat pada
aktivitas mereka serta pelaksanaannya tidak tergantung pada kehadiran atau
tindakan dari orang lain.
b)
Imbalan Ekstrinsik
Berasal dari luar yang diberikan kepada tenaga kerja
untuk mempengaruhi perilaku dan kinerja mereka.
H. Pemeliharaan tenaga kerja
c) Program
Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Pandangan manusia terhadap keselamatan dan kesehatan
kerja berkembang dari yang sederhana ke pandangan yang didasari konsep sistem
yang kompleks. Pandangan tersebut adalah sebagai berikut.
-
Faktor nasib dari para karyawan terkena kecelakaan
-
Faktor lingkungan fisik para karyawan, seperti mesin,
gedung, ruangan, peralatan.
-
Faktor kelalaian manusia
-
Faktor ketidak-serasian kombinasi faktor-faktor yang
dikelola dalam perusahaan
d) Program
Pelayanan Kerja
Program ini
dapat berupa:
-
bantuan untuk kesejahteraan karyawan (pemberian
pinjaman uang, perumahan, transportasi, pembelian lewat koperasi);
-
penyelenggraan rekreasi, olahraga secara terprogram;
dan
-
pemberian
fasilitas lain bagi karyawan.
Manfaat diselenggrakan program
tersebut sebagai berikut.
-
Penarikan tenaga kerja yang lebih efektif
-
Memperbaiki semangat dan kesetiaan karyawan
-
Menurunkan tingkat absensi dan perputaran tenaga kerja
-
Memperbaiki hubungan masyarakat
-
Mengurangi pengaruh organisasi serikat pekerja
-
Mengurangi campur tangan pemerintah
e)
Pemutusan Hubungan Kerja
Pemutusan hubungan kerja (PHK) dapat terjadi karena
beberapa hal di antaranya:
-
Pengunduran diri dari pihak karyawan
Biasanya
dikarenakan alasan pribadi, tidak cocok dengan pimpinan atau manajemen maupun
tidak menyenangi lingkungan kerjanya. Dapat juga dikarenakan karyawan merasa
mempunyai kesalahan dan daripada dipecat dari jabatannya maka secara sukarela.
-
Pemberhentian dari pihak perusahaan
·
Pemberhentikan sementara (lay off)
Biasanya
terjadi ketika omset perusahaan menurun tajam. Karyawan masih mempunyai ikatan
dengan perusahaan. Untuk menarik kembali karyawan yang dirumahkan telah diatur
dalam perjanjian, termasuk urutan (senioritas) karywan yang diprioritaskan
dipanggil terlebih dahulu.
·
Pemecatan (fired)
Pelanggaran-pelanggaran
yang pada umumnya dilakukan karyawan diantaranya:
ü lalai dalam
melaksanakan tugas (sering tidak hadir tanpa ijin)
ü inefisiensi
dalam bekerja
ü suka membuat
keributan di tempat kerja
ü melakukan
kecurangan, manipulasi, pencurian
Hal-hal tersebut yang akhirnya dapat
menyebabkan adanya tindakan pemecatan dari perusahaan.
·
Penempatan ke luar (outplacement)
Hal ini
karyawan diberhentikan tetapi perusahaan membantu penempatan ke luar atau
dicarikan pekerjaan lain, terutama untuk karyawan yang telah lama bekerja.
·
Demosi (sebagai alternatif pemberhentian)
Proses untuk
memindahkan karyawan ke tingkat pekerjaan yang tanggung jawabnya lebih rendah
dan akan diikuti pula dengan pengurangan upah/gaji.
·
Pemensiunan (retirement)
Karyawan
yang telah memasuki usia tertentu akan berhenti bekerja atau meninggalkan
perusahaan karena pensiunan.
5.
Hubungan Industrial
A. Pengertian dan Tujuan Hubungan Industrial Pancasila
Hubungan industrial pancasila adalah suatu sistem
hubungan yang terbentuk antara para pelaku dalam proses produksi barang dan
jasa (bekerja, pengusaha dan pemerintah) yang didasarkan atas nilai-nilai yang
merupakan menifestasi dari keseluruhan sila-sila dari Pancasila dan UUD NRI
1945 yang tumbuh dan berkembang di atas kepribadian bangsa dan kebudayaan
nasional Indonesia.
Tujuan hubungan industrial adalah mengemban cita-cita
Proklamasi Kemerdekaan Negara Republik Indonesia 17 Agustus 1945 di dalam
Pembangunan Nasional, ikut mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur yang
berdasarkan Pancasila dan UUD NRI 1945, serta ikut melaksanakan ketertiban
dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
B. Azas-azas dalam Hubungan Industrial Pancasila
Dalam mencapai tujuannya,
Hubungan Industrial Pancasila mendasarkan diri pada azas-azas pembangunan,
yaitu:
a)
azas Manfaat
b) azas Usaha
Bersama dan Kekeluargaan
c)
azas Demokrasi
d) azas Adil
dan Merata
e)
azas Peri Kehidupan dalam Kesinambungan
f)
azas Kesadaran Hukum
g) azas
Kepercayaan
Dalam pelaksanaan Hubungan Industrial Pancasila
berdasarkan kepada dua azas kerja yaitu:
a)
azas Kekeluargaan dan gotong royong;
b)
azas Musyawarah untuk mufakat.
Sebagai manifestasi dari kedua azas
di atas, maka HIP mendasarkan kepada # (tiga) azas kerja sama, yaitu bahwa
pekerja dan pengusaha merupakan teman seperjuangan dalam:
a)
Proses Produksi, berarti mereka wajib bekerja sama
serta membantu kelancaran usaha
b)
Dalam pemerataan menikmati hasil perusahaan, berarti
hasil usahanya dinikmati bersama dengan bagian yang layak atau sesuai dengan
prestasinya
c)
Dalam bertanggung jawab, kepada Tuhan Yang Maha Esa,
Bangsa dan Negara, masyarakat sekeliling, pekerja dan keluarganya juga kepada
pengusaha dimana mereka bekerja.
C. Ciri-ciri Khusus Hubungan Industrail Pancasila
a) Hubungan Industrial Pancasila
mengakui dan meyakini bahwa bekerja bukan hanyabertujuan untuk sekedar
mencari nafkah saja, akan tetapi sebagai pengabdianmanusia kepada Tuhannya,
kepada sesama manusia, kepada masyarakat, Bangsa dan Negara.
b)
Hubungan Industrial Pancasila
menganggap pekerja bukan hanya sekedar faktorproduksi belaka, tetapi
sebagai manusia pribadi dengan segala harkat danmartabatnya. Karena itu
perlakuan pengusaha kepada pekerja bukan hanya dilihat dan segi kepentingan produksi
belaka, akan tetapi haruslah dilihat dalam rangka meningkatkan harkat dan martabat manusia.
c)
Hubungan Industrial Pancasila melihat antara pekerja
dan pengusaha bukanlah mempunyai kepentingan yang bertentangan, akan tetapi
mempunyai kepentingan yang sama yaitu kemampuan perusahaan. Karena dengan perusahaan yang maju
dan semua pihak akan dapat meningkatkan kesejahteraan.
d)
Dalam Hubungan Industrial Pancasila setiap perbedaan pendapat antara
pekerja dan pengusaha hares diselesaikan
dengan jalan musyawarah untuk mencapai mufakat yang dilakukan secara kekeluargaan. Karena itu penggunaan
tindakan penekanan dan aksi-aksi sepihak seperti mogok, penutupan perusahaan
(lock out) dan lain-lain tidak sesuai dengan prinsip-prinsip
Hubungan Industrial Pancasila.
e)
Di dalam pandangan Hubungan Industrial Pancasila
terdapat keseimbangan antara hak dan kewajiban kedua belah pihak dalam perusahaan. Keseimbangan itu dicapai bukan didasarkan atas
perimbangan kekuatan (balance of
power), akan tetapi atas dasar rasa keadilan dan kepatutan. Disamping itu
juga Hubungan Industrial Pancasila juga mempunyai pandangan bahwa hasil-hasil perusahaan yang telah dicapai berdasarkan
kerja-sama antara pekerja dan pengusaha, hams dapat dinikmati secara adil dan
merata sesuai dengan pengorbanan masing-masing.
f)
Dalam Hubungan
Industrial Pancasila dituntut adanya saling pengertian antara karyawan dan
pengusaha. Di satu pihak, pengusaha perlu menyadari dan mengakui, bahwa:
g)
Di pihak karyawan dan
serikat pekerja harus menyadari dan mau menerima keadaan, bahwa:
D. Sarana dan Kelembagaan
dalam Pelaksanaan Hubungan Industrial Pancasila
Tujuan lembaga kerja
untuk mengembangkan hubungan industrial yang serasi pada tingkat perusahaan,
guna mencapai sasaran dalam libgkungan perusahaan yang harmonis dan sasaran
nasional baik di bidang pertumbuhan ekonomi, stabilitas di sektor industri dan
perluasan kesempatan kerja.
a)
Lembaga kerjasama
bipartit
Suatu lembaga atau
badan di dalam suatu perusahaan yang anggotanya terdiri dari wakil-wakil
pekerja dan wakil-wakil pengusaha yang merupakan forum konsultasi dan komunikasi
untuk memecahkan masalah bersama seperti produktivitas kerja, disiplin kerja,
ketenangan kerja dan ketenangan usaha dan lain-lain.
b)
Lembaga kerjasama
tripartit
Lembaga konsultasi dan
komunikasi antara wakil pekerja, pengusaha dan pemerintah untuk memecahkan
masalah-masalah bersama dalam bidang ketenaga-kerjaan, lembaga ini didirikan
baik tingkat nasional, propinsi dan kabupaten atau kotamadya. Lembaga ini juga
bersifat umum ataupun untuk sektor-sektor tertentu.
E. Kesepakatan kerja bersama
Kesepakatan
Kerja Bersama (KKB) atau Perjanjian Kerja Bersama (PKB) adalah perjanjian yang
merupakan hasil perundingan antara serikat pekerja/serikat buruh atau beberapa
serikat pekerja/serikat buruh yang tercatat pada instansi yang bertanggung
jawab di bidang ketenagakerjaan dengan pengusaha, atau beberapa pengusaha atau
perkumpulan pengusaha yang memuat syarat-syarat kerja, hak dan kewajiban kedua
belah pihak.
Peraturan-peraturan
yang mendasari diperlukannya KKB/PKB antara lain adalah:
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Manajemen personalia merupakan
bagian dari ruang lingkup manajemen selain manajemen sumber daya manusia,
manajemen keuangan, manajmen pemasaran, manajemen produksi dan sebagainya.
Manajemen personalia adalah suatu ilmu dan seni untuk melaksanakan antara lain
planning, organizing dan kontroling sehingga efektivitas dan efisiensi
personalia dapat ditingkat kan semakasimal mungkin. Memang hrus kita ketahui
bahwa sukses tidaknya suatu perusahaan /instansi tidak hanya tergantung dari
kegiatan dalam bidang personalia, meskipun demikian peranan manajemen
personalia cukup besar andilnya terhadap sukses tidaknya.
Untuk dapat mengembangkan manajemen
personalia maka kita harus sadar bahwa manusia bukanlah benda mati sebab
manusia mempunyai perasaan, mereka dapat gembira dan sakit hati , mereka dapat
senan dan susah , mereka bukan hanya memerlukan kebutuhan materi tetapi juga
mereka juga sering mengharapkan penghargaan dan pengakuaan.
DAFTAR
PUSTAKA
Sumarni,
Murti., dan Suprihanto, John. 2014. Pengantar Bisnis. Yogyakarta: Liberty. Hal.
363-394
Flippo,
Edwin B. Princples of Personel Management
3rd edition
Tidak ada komentar:
Posting Komentar